Teori
dependensi berarti adanya ketergantungan
dari satu pihak terhadap pihak lain didasarkan pada factor-faktor tertentu. Lahirnya teori ini merupakan efek dari
kapitalisme, globalisasi, dan imperialisme moderen. Teori ini berkembang di
Amerika Latin sekitar tahun 1960 yang berasal dari sejarah Keterbelakangan
negara-negara Amerika Latin yang secara tidak sengaja terkoneksi dengan sistem
ekonomi dunia yang kapitalis, sehingga mereka menjadi negara-negara pinggiran
dari negara-negara kapitalis. Teori
Dependensi lebih menitik beratkan pada persoalan keterbelakangan dan
pembangunan negara Dunia Ketiga. Teori ini mencermati hubungan dan keterkaitan
negara Dunia Ketiga dengan negara sentral di Barat sebagai hubungan yang tak
berimbang dan karenanya hanya menghasilkan akibat yang akan merugikan Dunia
Ketiga. Negara sentral di Barat selalu dan akan menindas negara Dunia Ketiga
dengan selalu berusaha menjaga aliran surplus ekonomi dari negara pinggiran ke
negara sentral.[1]
Dalam teori ketergantungan juga mencakup teori
keterbelakangan (underdevelopment).
Menurut Andre Gunder Franks, Keadaan “underdeveloped” ialah ketika
masyarakat itu kontak dengan negara maju (developed) dan terjadi
penjajahan dan ketergantungan.[2]
Sedangkan Frank secara tegas menjelaskan mengenai pokok-pokok pikiran dari
teori underdevelopment, yaitu sebagai
berikut[3]
:
Pertama, negara yang secara
ekonomi maju tidak pernah underdeveloped meskipun mungkin pernah mengalami underveloped . Bersamaan dengan tumbuhnya ekonomi
kapitalis, negara industri maju menyandarkan diri pada kekayaan sumber daya
alam negara Dunia Ketiga.
Kedua, menumpuknya modal
merupakan kekuatan pendorong (driving force) di balik proses ini.
Sebagai dampaknya adalah pedagang, produsen dan banker mencari keuntungan di
Dunia Ketiga.
Ketiga, pedagang, produsen, dan banker bertujuan mengakumulasikan modalnya
di Dunia Ketiga untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Hal ini
menghasilkan surplus yang banyak dinikmati oleh negara maju kapitalis (the
core). Pemindahan surplus ke negara-negara maju dimaksudkan untuk
mempertahankan supaya sistem ekonomi Dunia Ketiga (periphery) tetap
berorientasi ke luar melalui ekspor komoditinya dan impor barang siap pakai.
Maka industrialisasi Dunia Ketiga akan tetap tergantung pada kekuatan luar (external
forces) berupa ketergantungan bidang teknologi.
Keempat, dinamika internal
sistem ekonmi juga dikembangkan di antara Dunia Ketiga, yaitu dengan memperkuat
sistem ketergantungan. Upah diupayakan serendah mungkin. Pasar domestic (internal
market) dibatasi melalui cara pembelanjaan income di negara maju oleh kalangan
elite kaya di Dunia Ketiga. Polarisasi kekayaan yang dimiliki negara maju tidak
dapat dihindarkan sehingga elite domestk (domestic elites) hanya
berperan sebagai junior
partners. Pasar di negara Dunia Ketiga tidak lebih dari perwujudan tuntutan
elite setempat.
Kelima, kelompok kapitalis
Dunia Ketiga yang mempunyai priviliged justru mengadakan hubungan dengan kaum
borjuasi di negara maju, sehingga dimungkinkan berkembangnya negara-negara
dengan sistem kolonial, neo-kolonial dan semi kolonial, sebagai perwujudan
bentuk kerja sama tersebut
Keenam, sistem kapitalis dunia
merupakan hasil dari suatu sistem yang ingin mempertahankan dominasinya atas
Dunia Ketiga. Oleh sebab itu, otonomi penuh bagi Dunia Ketiga tidak akan
terwujud.
Ketujuh, Dunia Ketiga akan
mengalami pembangunan ekonomi yang pesat, apabila hubunagnnya dengan industri
kapitalis mulai berkurang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar